TAFSIR KALIMAT TAUHID

cover kalimat tauhid

Bismillahhirrahmaannirrahim.

Alhamdu liwaliyhi wa sholaatu wassalaamu ‘alaa nabiyyihi.

 

Asy –syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Rahimahullah di tanya tentang makna kalimat    “ laa ilaaha illaullah “, maka beliaupun menjawab :

“ Ketahuilah…semoga allah memberikan rahmatnya kepadamu, bahwasanya kalimat ini ( laa ilaaha illaullah ) dia adalah pembeda antara kafir dan islam, dan ini merupakan kalimat taqwa, dan dia adalah al’urwatul wutsqo ( tali bughul yang mengikat kuat ), dan kalimat inilah yang dijadikan oleh nabi ibrohim ‘alaihi salam sebagai kalimat yang di wasiatkanya kepada anak keturunanya agar mereka kembali ( kepada agama tauhid ). Dan bukanlah yang di maksud dengannya adalah mengucapkan ( kalimat “ laa ilaaha illaullah “ dengan lisanya akan tetapi dia jahil ( tidak memahami ) maknanya, karena sesungguhnya orang-orang munafiq mereka mengucapkan kalimat tersebut ( kalimat : “ laa ilaaha illaullah “ ) akan tetapi Allah ‘azza wa jalla meletakkan mereka di bawah orang-orang kafir di dalam neraka, yaitu mereka di letakkan di keraknya neraka jahanam “.

“ Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” [ An-Nisa : 145 ].

Padahal bersamaan dengan itu mereka ( orang-orang munafik tersebut ) melakukan sholat dan bershodaqoh. Akan tetapi yang di inginkan dari pengucapan kalimat tersebut haruslah diikuti dengan pengetahuan atas maknanya di dalam hati, dan mencintai kalimat tersebut dan mencintai orang-orang yang menjalankan konsekwensi dari kalimat yang agung tersebut, serta dia harus membenci siapa saja yang menyelisihinya dan menentangnya. Sebagaimana Nabi Shollaullahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Barang siapa yang mengucapkan kalimat : laa ilaaha illaullah dalam keadaan dia ikhlas “…[ HR : ahmad ] . Dan dalam riwayat lain di sebutkan : “ dia ikhlas di dalam hatinya “…[ HR: bukhori ]. Dan di dalam riwayat yang lain di sebutkan:   “ dia jujur di dalam hatinya “…[ HR: bukhori ].

Dan di sebutkan juga di dalam hadits yang lain: “ dan barang siapa yang mengucapkan kalimat: laa ilaaha illaullah, dan dia telah meninggalkan ( mengingkari ) segala bentuk dari jenis-jenis ibadah yang dilakukanya kepada selain allah “ [ HR : muslim ] ,     Dan masih banyak lagi  dari hadits-hadits yang menunjukkan atas kejahilan dari kebanyakan manusia  terhadap makna dari persaksian ini ( yaitu persaksian : “ asyhadu allaa ilaaha illaullah “ ).

Maka ketahuillah….sesungguhnya di dalam kalimat ini terkandung makna Nafiy         ( penafian ) dan istbat ( penetapan ). Adapun makna nafiy yaitu menafikan                                    ( menghilangkan ) segala ilah-ilah ( sesembahan-sesembahan ) yang di sembah selain Allah ‘azza wajalla dari golongan utusan-utusan-Nya atau makhluk-makhluk-Nya. Meskipun itu adalah Muhammad Shollaullahu ‘Alaihi Wasallam, dan dari golongan malaikat meskipun dia adalah Jibril ‘Alaihi Wasallam atau orang-orang yang memiliki keutaman dari selain keduannya seperti para nabi atau orang-orang yang sholeh. Kemudian hanya menetapkan satu ilah ( sesembahan ) yaitu Allah ‘Azza Wa Jalla semata.

Maka jikau engkau telah memahami maknanya, maka perhatikanlah  Al – Uluhiyyah ( al–‘ubudiyyah ) dimana  Allah ‘azzawajalla telah menetapkan pada dirinya dan dia menafikannya dari Muhammad Shollaullahu’alaihi Wasallam dan juga Jibril ‘alaihi salam dan yang selain keduannya tidak ada yang memiliki sedikitpun dari Uluhiyyah-Nya  Allah ‘azza wajalla meskipun hanya sebesar biji sawi.

Ketahuillah…bahwasanya uluhiyyah ini , dia adalah yang di sebut oleh orang awam sebagai “ as-sirru “ ( rahasia/ kemampuan terselubung ) dan “ al wilaayah “ ( rasa cinta dan pertolongan ). Dan adapun Ilah ( menurut mereka orang musyrikun ) maknya adalah wali yang memiliki kemampuan yang tersembunyi ( pertolongan ). Dan ilah inilah yang mereka sebutkan dan namakan dengan sebutan “ al faqir “  atau “ asy-syaikh “. Dan orang awam menamakanya “ sayyid  “ , atau yang semisal darinya.Dan dengannya mereka menyangka bahwasanya Allah ‘azza wajalla telah menjadikan orang-orang pilihan yang ada di sisinya memiliki kedudukkan khusus, dimana Allah ‘azza wajalla ridho dan rela jika manusia mengembalikan segala urusanya kepada mereka ( orang-orang pilihan tersebut ). Dan menggantungkan harapan kepada mereka dan meminta keselamatan melalui mereka serta menjadikan mereka sebagai perantara di antara dia  dan Allah ‘azzawajalla.

Adapun orang-orang yang dianggap oleh orang-orang musyrikun di zaman kami ( zaman syaikh muhammad bin ‘abdil wahhab)  bahwasanya mereka itu adalah perantara – perantara mereka yang dimana generasi musyrikun yang pertama menyebut mereka sebagai “ aalihah “ ( ilah-ilah ). Maka dari itu “ al waa shitoh “ ( perantara ) dia adalah “ ilah “, maka tatkala seseorang mengucapkan kalimat : “ laa ilaaha illaullah “, menggugurkan ilah-ilah selain allah yang di jadikanya perantara di dalam peribadahanya kepada allah ‘azza wajalla.

Dan jika engkau ingin untuk mengetahui perkara ini dengan pengetahuan yang sempurna, maka itu dapat di tempuh dengan memahami dua perkara:

  1. Kamu telah mengetahui bahwasanya orang-orang kafir yang telah di perangi oleh Rasullullah Shollaullahu ‘alaihi wasallam, dan di perbolehkan hartanya untuk di ambil dan di halalkan wanitanya untuk di jadikan budak mereka semua adalah orang-orang yang mengakui Allah ‘azzawajalla di dalam Tauhid Rububiyyah nya. Yaitu bahwasanya mereka meyakini bahwa tidak ada sesuatu apapun yang dapat menciptakan , memberi rizqi, menghidupkan,mematikan serta mengurus segala urusan kecuali hanya allah ‘azza wajalla semata. Dan ini sebagaimana allah ‘azza wajalla berfirman:

“ Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup[689] dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” [ yunus :31 ]

“ katakanlah ( wahai muhammad ) siapa yang memberikan kalian rizqi dari langit dan bumi, siapa yang menguasai pendengaran dan penglihatan dan siapa yang menghidupkan orang yang mati dan mematikan orang yang hidup dan siapa yang mengatur segala urusan ..?, ,maka mereka ( orang-orang musyrik tersebut ) akan mengatakan allah. “. Maka ini merupakan masalah yang sangat besar ,jelas dan sangat  penting. Dimana engkau mengetahui bahwasanya mereka orang-orang kafir tersebut bersaksi dengan persaksian ini seluruhnya ( dari  tauhid rububiyah ) dan merekapun mengaikrarkanya ( mengakuinya ). Akan tetapi yang demikian itu tidak memasukkan mereka kedalam islam. Dan tidak di haramkan atas mereka darah-darah mereka serta harta – harta mereka. Dalam keadaan mereka  juga mengerjakan shodaqoh dan haji serta umrah dan beribadah serta meninggalkan segala sesuatu dari hal-hal yang di haramkan oleh allah ‘azzawajalla, dalam keadaan takut kepadanya.

  1. Adapun perkara yang kedua, yang menyebabkan mereka di kafirkan,dan di halalkan darah-darah mereka, yaitu karena sebab mereka tidak mau bersaksi dengan persaksian kepada tauhid Uluhiyyah.

 

Adapun Tauhid Ilahiyah ( ibadah ) yaitu; tidak berdoa ( beribadah ) dan tidak menggantungkan harapan serta tidak memohon pertolongan  kepada selain Allah ‘azza wajalla, dan juga tidak menyembelih ( berqurban ) serta bernadzar kepada selain Allah ‘azzawajalla , tidak kepada malaikat yang terdekat di sisi Allah ‘azzawajalla ataupun kepada para nabi yang di utus. Maka jika ada seseorang yang meminta pertolangan kepada selain Allah ‘azza wajalla maka sungguh dia telah kafir. Barang siapa yang menyembelih ( berqurban) untuk selain Allah ,dan bernadzar kepada selain Allah ‘azza wajalla maka sungguh dia telah kafir dan begitu juga jika dia melakukan hal-hal yang serupa dengannya.

Dan penyempurnaan pembahasan ini yaitu, sebagaimana yang telah engkau ketahui bahwasanya orang-orang musyrikun yang di perangi oleh Rasullullah Shollaullahu ‘alaihi wasallam mereka adalah suatu kaum yang beribadah kepada orang soleh dan diantara mereka ada juga yang beribadah kepada malaikat dan Nabi Isa serta ibunya dan  ‘Uzair atau yang semisalnya para wali-wali. Maka mereka semua telah di kafirkan  dalam keadaan mereka mengakui bahwasanya allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya dzat yang maha pencipta dan pemberi rizqi, serta maha pengatur.

Jika engkau telah memahami point tersebut, maka engkau telah memahami makna “ laa ilaaaha illaullah “.

Dan engkau telah mengetahui barangsiapa yang memuji ( memuliakan ) seorang nabi atau malaikat atau menggantungkan harapan kepadanya atau meminta pertolongan kepadanya  maka sungguh dia telah keluar dari islam. Maka inilah yang di sebutkan sebagai kekufuran, dimana rasullullah shollaullahu ‘alaihim memerangi mereka karena sebab perbuatan mereka tersebut.

Maka jika seseorang dari golongan orang-orang musyrik itu  berkata :

“ Kami mengetahui bahwasanya Allah ‘azzawajalla adalah satu-satunya zat yang menciptakan , memberi rizqi dan mengatur alam semesta, akan tetapi orang-orang sholeh mereka adalah orang-orang yang memiliki kedekatan di sisi allah ‘azzawajalla maka dari itu kami berdoa kepadanya, dan bernadzar kepada mereka, dan mendatangi ( berziaroh ) kuburan mereka dan meminta pertolongan kepada mereka. Dan yang kami inginkan dengan amalan kami tersebut agar mendapatkan kedudukan dan syafa’at. Dan jika tidak maka kami memahaminya bahwasanya Allah ‘zzawajalla adalah Al Kholiq , Ar Razaq dan Al Mudabbir. “

Maka katakanlah : “ Sesungguhnya perkataan kamu ini adalah perkataan yang di yakini oleh abu jahl dan yang semisal denganya. Maka sesungguhnya mereka ( orang-orang musyrikun zaman dahulu ) mereka berdoa kepada ‘Isa,’Uzair dan para malaikat serta para wali , dan yang mereka inginkan adalah hal yang serupa dengannya. Sebagaimana dengan firman Allah ‘azzawajalla :

“ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” [ az-zumar : 3 ].

“ dan orang-orang yang menjadikan selain dari allah sebagai wali-wali, mereka mengatakan : kami tidak beribadah kepada wali-wali kami tersebut, melainkan hanya untuk mendapatkan kedekatan di sisis allah semata “, dan allah ta’ala juga berfirman :

“  dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?”[678] Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).” [ yunus : 18 ].

[678] Kalimat ini adalah ejekan terhadap orang-orang yang menyembah berhala, yang menyangka bahwa berhala-berhala itu dapat memberi syafaat Allah.

“ Dan mereka beribadah kepada selain allah ( dimana ilah-ilah yang mereka sembah selain allah tersebut ) tidak bisa memberikan mudhorot kepada mereka dan juga tidak dapat memberikan manfa’at , akan tetapi mereka mengatakan wali-wali mereka tersebut dapat memberikan syafaat kepada mereka di sisi allah .”

Maka jika engkau telah memperhatikan masalah ini dengan sunguh-sungguh , dan engaku telah mengetahui bahwasanya orang-orang kafir yang mereka bersaksi kepada allah dengan Tauhid Rububiyyah ( menjadikan Allah ‘azzawajalla semata di dalam penciptaan, Pemberian rizqi dan pengaturan alam semesta ) dimana mereka memuji ( memuliakan )’isa dan malaikat dan para wali dengan tujuan bahwasanya mereka ( ‘isa , malaikat dan para wali ) tersebut  dapat mendekatkan mereka ( orang-orang kafir ) kepada Allah ‘azzawajalla dengan sedekat-dekatnya serta dapat memberikan syafa’at kepada mereka di sisi allah ta’ala.

Dan engkau juga telah mengetahui bahwasanya di antara orang-orang yang kafir tersebut ( dikhususkan kepada orang-orang nashoro ), dimana dia beribadah kepada Allah ‘azzawajalla pada malam hari dan siang hari, serta dia zuhud terhadap kehidupan dunia , dan bershodaqoh serta  menyendiri dari  manusia . Maka bersamaan dengan amalannya tersebut dia tetap di katakan kafir sebagai musuh allah dan kekal di dalam neraka di karenakan keyakinan mereka terhadap ‘isa dan yang semisalnya dari wali-wali yang mereka berdoa kepadanya dan menyembelih untuknya serta bernadzar kepadanya. Maka telah jelas bagimu bagaimana sifat islam yang di seru ( di dakwahkan oleh nabimu muhammad shollaullahu ‘alaihi wasallam kepada mereka. Dan telah jelas juga bagimu bahwasanya sebagian besar dari manusia merasa asing dengannya  ( di dalam memahami  tauhid uluhiyyah ). Maka telah jelas bagimu sabda rasullullah shollaullahu ‘alaihi wasallam : “ islam akan datang dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana datangnya.”

Faullaha allaha  wahai saudaraku, peganglah dengan erat perkara dasar ( pokok ) di dalam agama kalian ini ( baik diawal hidupmu sampai pada akhir hidupmu ) , serta  jagalah dia, dimana puncaknya adalah kalimat : “ laa ilaaha illaullah “  .

Maka pahamilah maknanya dan cintailah kalimat tersebut serta cintailah orang-orang yang memegang kalimat tersebut meskipun mereka jauh darimu. Dan tinggalkanlah thoghut-thoghut dan perangilah mereka serta bencilah terhadap mereka dan bencilah terhadap orang-orang yang mencintai mereka atau yang membela mereka atau tidak mengkafirkan mereka, atau kepada orang yang mengatakan tidak ada urusanku terhadap mereka (tidak peduli ) atau kepada orang yang mengatakan allah tidak membebaniku dengan mereka. Maka sungguh dia telah berdusta atas nama allah dan membuat fitnah terhadapnya. Padahal sungguh allah telah memebebani mereka dengannya dan mewajibkan mereka untuk mengkafirkannya serta mereka diperintahkan untuk berlepas diri darinya meskipun itu adalah saudara-saudara mereka atau keluarga mereka sendiri.

Faullaha allaha wahai saudaraku…pegangalah perkara ini ( tauhid uluhiyyah ) semoga kalian  kelak tatkala bertemu dengan rabb kalian , kalian dalam keadaan tidak melakukan kesyirikkan sedikitpun. Ya allah wafatkanlah kami dalam keadaan muslim dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang sholeh ( beriman ).

Dan sungguh kami akan menutup perkataan ini dengan ayat allah yang telah di sebutkan oleh allah ‘azza wajalla di dalam  di dalam kitabnya ( al qur’an ). Maka telah jelas bagimu bahwasanya kekufuran orang-orang musyrikun di zaman kita ini lebih besar daripada kekufuran pada orang-orang yang telah di perangi oleh rasullullah shollaullahu ‘alaihi wasallam, dan allah ta’alla berfirman :

“ Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih”. [ al isro : 67 ].

Di dalam ayat ini allah ‘azza wajalla menerangkan tentang keadaan kaum musyrik di zaman dahulu, dimana mereka dalam keadaan di timpa bahaya ( kesulitan / mushibah ) maka  mereka meninggalkan sayyid-sayyid dan syaikh – syaikh mereka . dan mereka tidak berdoa kepadanya seorang pun ( syaik dan sayyid mereka ) dan tidak meminta pertolongan kepada mereka, bahkan tatkala itu justru mereka mengikhlaskan ibadah mereka hanya kepada Allah ‘azza wajalla semata dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun

Dan mereka hanya meminta pertolongan kepada allah’azza wajalla semata. Maka tatkala telah datang kepada mereka kelapangan, maka mereka kembali menyekutukan allah ‘azza wajalla. Dan cobalah kamu perhatikan orang-orang yang melakukan kesyirikan di zaman kita ini. Dimana sebagian dari mereka mengakui bahwasanya dirinya termasuk dari golongan ahli ilmi ( ulama ), dan termasuk di antaranya adalah orang yang zuhud dan bersungguh-sungguh serta ahli ibadah.

Maka tatkala musibah menimpa dirinya ,mereka bangkit untuk meminta pertolongan kepada selain Allah ‘azza wajalla seperti : Ma’ruf atau Abdul Qodir Al Jiylaaniy. Atau yang kedudukannya lebih tinggi dari mereka seperti Zaid bin Khothob dan Zubair. Atau yang lebih tinggi derajatnya dari mereka seperti Rasullullah shollaullahu ‘alaihi wasallam, faullahu musta’aan. Dan yang lebih besar dari itu dan lebih yang lebih mengherankan lagi yaitu bahwasannya mereka meminta pertolongan  kepada thoghut – thoghut dan orang yang telah kafir serta murtad seperti Syamsaan dan Idriys ( dan di katakan kepadanya “ al asyqor “ [ rambut yang berwarna ]  ) dan juga Yusuf atau yang semisalnya . Maha Suci Allah Zat yang Maha Mengetahui.

Waallahu A’lam bi Showaab.

PENERJEMAH : USTADZ. ABU JAFAR KHOLIL BIN HADIY, BEKASI 2017

 

            —————————-oo))((oo—————————

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *